Thursday, February 6, 2020

Paspor in Stories ( Part II )



Seperti hal-nya ingatan manusia yang semakin samar tiap waktu demi waktu. Untuk itulah aku suka menulis. membacanya kembali seperti menaiki mesin waktu. Mengulang kembali, menghadirkan lagi. Kebahagiaan dikala itu, juga keputus asaan itu. Tersenyum kembali ketika memori itu terputar lagi, kerapkali tertawa oleh kekonyolan diriku yang dulu, tak jarang juga aku menangis membaca fiksi karyaku sendiri. Karena itulah aku mencintai tulisanku. Ia adalah sahabat terbaikku, ia tidak pernah pergi, meski aku tinggalkan berkali-kali.

Seperti hal-nya ingatan manusia yang semakin samar tiap waktu demi waktu, seperti itulah hadirku kini melanjutkan postinganku yang sebelumnya, Paspor in Stories.

Ya- anggap saja ingatan adalah secangkir kopi hangat, mungkin kopi ku kini sudah mendingin, ditelan waktu. bukan, bukan karena aku melupakanya. hanya saja, tidak sedetail kala itu.

Singkat cerita- Bandung saat itu menjadi kegalauan besar bagiku. “Naik apa aku kesana?” “ya ampun jauh banget gila woi anjir bikin paspor doang pake ke bandung segala?!” bayangan-bayangan gak dapet izin juga mulai menghantui. Gak jadi pergi, duit pun juga hilang- matilah sudah, pikirku- lebih tepatnya, mimpi burukku.

Akhirnyaaa kegalauan itu tiba tiba wushhh- hilang dalam sekejab dengan “yaudah kalau emang bener bener nggak bisa bikin paspor dideket dket sini, nanti papa anterin ke bandung’ asdsdssfsf aku emang punya papa paling baikkk. “tapi coba iseng-iseng aja tuh kakak ke imigrasi yang di –piiip- sensor, intinya kantor imigrasi deket rumahku hehehe.

Finally aku kesana, dan dapat info kalau sekarang natrianya emang harus pakai whatsapp, gabisa ujug ujug langsung bikin, then- aku curhat bin cerita kalau aku tuh udah mepeeeet bgt waktunya, udah mau berangkat akhir bulan nanti, sedangkan antrianya teh penuh semua. Hhh. Alhasil sang mamang imigrasi kasih saran, suruh ke kantor imigrasi yang di Serang aja. Dia masih antri manual.

“Alhamdulillah yaAllah” udah berasa kayak menang undian sepeda dari bapak Jokowi!! Nggak deng, lebih seneng lagi pokoknya! Secara Serang setidaknya lebih deket dari Bandung. Alhamdulillah, Macau dan Hongkong masih rezeki aku.

Singkat cerita lagi- pagi pagi buta bener bener abis sholat subuh aku berangkat dianter papa, bener bener masih gelap. Karena kata papa kalau siangan dikit, bisa macet total, belum lagi bikin paspor pasti ngantri. Aku lupa tepatnya tanggal berapa- ya maklumlah, Seperti hal-nya ingatan manusia yang semakin samar tiap waktu demi waktu (tsaaaah~).

Akhirnya bener aja, aku sampai sana jam 6 pagi, bener-bener pagi buanget. Belum buka. Aku sama papa sampai sarapan nasi uduk dulu didepan kantor imigrasi. Dan jengjeng waktu antrian dibuka, aku dapat antrian nomor 3, gak sia-sia aku berangkat pagi buta. And you know what? Antrian udah abis pas jam 7 pagi, udah mencapai 100 lebih antrian. Aku Cuma bisa geleng-geleng kepala.

Finalllyyyyy after so much drama, i got youuu~ under my skin~ (o sorry)
Finally, i got you, my pasport!



FIN
(pssst.) wait my another story of Hongkong and Macau!




Regards, cicicipta.



KYAAAAHHHHHH- i’m so hwaaappy that finally i can finish this shitty post that always haunting me everyday!!! Feel like.. mau lanjutin tapi udah banyak yang lupa karena udah lama banjeeet. Tapi masih pengen lanjutin karena kayaknya aku tuh gak betah kalau ada postingan ngegantung (hiksss padahal fanficku banyak yang gantung untill the main character of my fanfic gone for real- hiks, R.I.P Goo Hara T_T)

ANYWAY! Thankyou myself- for continue this shit post! I’m proud of myself!
Ok- thankyou for nobody who read this, see you next time, annyeonggg!

0 comments:

Post a Comment

Happy Apple