Friday, June 29, 2012

[FF] Green Apple





GREEN APPLE


Story By : Suciati Cipta Sejati

Artworking By : Suciati Cipta Sejati

Genre : Fluff

Rating : T

Length : Drabbles (1.072 words)

Pairing : Choi Minho/Goo Hara

Summary : Ketika hidup yang sangat tidak adil..


“Tunggu... hai kau anak bodoh! Berhenti!”
Di bawah terik matahari yang terus menyinari, panas terus terasa dari ubun-ubun hingga ujung kaki, seorang lelaki muda berseragam sekolah itu dengan segenap tenaga bertumpu pada kedua kaki-nya, dan tergantung tas di punggungnya, asalkan tidak tertangkap oleh mereka, hanya itu yang ia fikirkan.. ia berlari sekuat tenaga tanpa arah dari segerombolan preman di belakangnya
Banyak luka memar di wajahnya, seragamnya pun terlihat sedikit berantakan, begitu banyak peluh di dahinya, terdapat banyak luka goresan yang menghiasi wajahnya, terlihat ia sedang melarikan diri setelah bertarung melawan preman-preman tersebut
“berani kau macam-macam pada bos kami hah! Terima pembalasan kami!”
kelima preman jalanan bersenjata itu terus mengejarnya, mereka terlihat begitu tangguh dan berotot kekar,preman-preman itu memiliki begitu banyak tindikan dimana-mana
Pada padang lahan kosong yang luas, dikelilingi oleh pohon-pohon yang cukup besar
sesekali lelaki itu menghentikan langkahnya, menekukan punggungnya dan bertumpu pada lututnya, merukuk untuk sekedar menarik nafas dan menyapu peluh di dahinya, lalu ia kembali melanjutkan langkah kakinya, mencoba melarikan diri dari preman-preman itu
“Cih Preman sialan!”
Tiba tiba lelaki itu menghentikan langkah kakinya, preman tersebut pun ikut berhenti mengejarnya
“Ya.. Choi Minho, apa kau menyerah?
Kelima preman itu tersenyum menyeringai, ia mulai menghentikan laju kecepatannya, ia mulai melangkah dengan santai menghampiri Minho yang sedang menyapu peluh di hadapanya
“ hah sudah menyerah kau rupanya”
Preman itu mulai mengelilingi minho, mereka tersenyum licik dan dengan tangan kekarnya, mereka menyiapkan beberapa tenaga, mereka membunyikan jari-jari mereka, salah satu dari preman tersebut membawa kayu yang cukup besar, ia menepuk-nepukan kayu itu sembari tersenyum menyeringai menatap minho
Buk!
Minho melemparkan ransel-nya ke atas tanah, ia pun mulai membenarkan kerah bajunya
“oooh.. kau fikir kau bisa melawan kami?” ujar preman tersebut sembari terus tersenyum licik
Minho diam, ia mulai menatap tajam kelima preman di sekelilingnya, ia mulai mengepalkan tanganya dan meremasnya, hingga timbul bunyi-bunyi berdekak dari tulang-tulangnya
“haha, Ya Choi Minho.. boleh juga nyalimu”
“Setidaknya aku tidak pengecut seperti bos kalian” Minho pun angkat bicara “ Bos kalian yang hanya bisa bersembunyi di balik punggung orang-orang dungu seperti ini” Minho pun berbalas mengeluarkan senyuman yang menyeringai
“apa katamu? jaga mulutmu!” preman tersebut geram mendengar ucapan Minho, habislah kesabaran mereka
Hyaaa!
Salah satu preman itu mengibaskan kayu yang di genggamnya, di arahkanya pada kepala Minho, tetapi Minho pun berhasil menangkisnya, terjadilah perkelahian sengit antara mereka, tidak adil memang bagi Minho, seorang lelaki remaja yang masih mengenakan seragam SMA-nya, bertarung sendirian melawan 5 preman berotot kekar bersenjata, tapi, kehidupan memang tidak pernah adil
Minho tetap tidak mau menyerah.. ia menangkis dan sesekali meninju sekuat tenaga preman tersebut
Bugh!
Tinju yang cukup keras berhasil menghantam perut Minho, sejumlah cairan bening keluar dari mulutnya, bola matanya membesar, seketika ia memegangi perutnya, Minho mulai jatuh berlutut di hadapan preman tersebut
“hahaha.. hanya ini kah kekuatanmu?”
Preman itu terkikik melihat Minho yang tidak berkutik dihadapanya
Dengan langkah kaki bergetar, di tahanya rasa sakit itu, Minho pun kembali berdiri, ia kembali menghajar preman-preman itu.
Minho mengerahkan sekuat tenaga melawanya, Preman-preman itu satu persatu mulai kualahan melayani aksi Minho, preman itu satu-persatu terjatuh, hingga sampailah pada preman terakhir, Minho meninjunya sekuat tenaga, preman itu pun terjatuh jua..
“Cih.. membuang waktuku saja”
Minho berbalik badan dan kembali meminggul tas-nya, ia berjalan meninggalkan preman-preman tersebut yang sedang sibuk mengurangi rasa sakit di tubuhnya
“Ya Choi Minho!”
Preman itu kembali berdiri dan kembali mengejar Minho, Minho pun mulai mempercepat langkah kakinya, ia sekuat tenaga berlari menggunakan sisa-sisa tenaganya
“Aishhh” decak Minho
Minho pun akhirnya keluar dari padang kosong itu, sampailah ia pada jalan raya yang memotong padang luas itu, Minho menyebrangi jalan raya itu dan masuk ke dalam padang kosong di seberang jalan..
Preman itu sedikit terhambat untuk mengejar Minho karena banyak kendaraan melintas yang menghalanginya untuk menyeberang jalan
Minho menemukan pohon apel besar dihadapanya, ia mendapatkan ide cemerlang, ia pun mulai memanjat pohon apel itu dan bersembunyi dibalik dahan dan ranting yang lebat
“Aku benci Ibu! Aku benci ayah!”
Minho tersentak, ia menoleh kebawah pohon yang di jadikanya tempat untuk bersembunyi, ia terkejut mendapati seorang gadis cantik berambut panjang dan bermata besar dengan gaun putih yang indah, ia sedang menghunuskan pisau tajam berulang-ulang pada batang pohon apel besar yang sedangdinaikinya.
“Kalian biarkan aku hidup seperti ini.. Aku benci Tuhan!”
Jleb!
Pisau itu menusuk batang pohon Apel cukup dalam hingga membuat gadis itu sulit untuk mencabut pisau itu kembali
Srak Srak
Beberapa ranting pohon yang patah oleh Minho pun berjatuhan menimpa gadis itu, membuat gadis itu tersentak terkejut
“Siapa itu?”
Seketika gadis itu menolehkan kepalanya keatas pohon, bola matanya membesar, ia sangat terkejut didapatinya seorang lelaki sebaya denganya di atas sana
“Sial! Kemana larinya bocah ingusan itu?”
Preman itu pun tiba disana, seketika gadis itu terkejut dan menolehkan pandanganya pada preman preman itu, preman tersebut pun melihat gadis itu dan mulai menghampirinya, gadis itu sedikit ketakutan, ia mundur beberapa langkah mendekati pohon apel besar tempat persembunyian Minho
“Hei nona, apa kau melihat lelakiseumuran dengan-mu yang mengenakan seragam disekitar sini?”
Preman itu bertanya pada gadis itu, gadis itu terbelalak, ia memutar sedikit bola matanya, ia melihat ke atas pohon tempat minho bersembunyi, Minho meletakan jari telunjuk didepan bibirnya, meng-isyaratkan pada gadis itu untuk tutup mulut
Setelah melihat Minho, gadis itu kembali menoleh pada preman-preman tersebut
“Ya aku tahu, tadi aku melihatnya berlari ke arah sana”
Gadis itu menunjuk kesembarang arah
“baiklah terimakasih nona”
Preman itu tertipu mentah-mentah, mereka berlari menuju arah yang di-tunjuk oleh gadis itu, Minho berhasil lolos dari kejaran preman itu.. Minho melompat turun dari atas pohon dan menatap tajam gadis itu, gadis itu terdiam dalam tatapan Minho..
Minho melihat pisau yang menancap di pohon apel itu
Krash
Dengan satu tangan, Minho mencabut pisau itu
Jleb!
Minho pun menghunuskan pisau itu kedalam tanah, gadis itu hanya terdiam melihat Minho yang menghunuskan pisau miliknya kedalam tanah
“jangan jadikan pohon ini sebagai pelampiasan, karena dia pun bisa menyelamatkan seseorang”
Gadis itu terus memandangi mata Minho dalam-dalam, terlihat genangan air di sudut mata gadis itu, matanya memerah dan wajahnya kalut oleh amarah, sepertinya ia sedang memiliki masalah yang cukup besar dalam hidupnya
Minho pun terus memandangi gadis itu
“Gomawo”
Minho memberikan sebuah Apel hijau besar pada telapak tangan gadis itu, gadis itu menerimanya sambil terus memandangi Minho dengan penuh perasaan kacau
Minho pun merapihkan kerah bajunya dan mulai berjalan meninggalkan pohon apel serta gadis itu
Gadis itu tak bisa melepaskan pandanganya dari Minho, ia terus memandangi Minho yang melangkah pergi menjauh
Hingga Minho tak terlihat lagi, gadis itu pun tersadar, Ia mulai memandangi apel hijau besar pemberian Minho ditanganya

FIN

______________________________________________________________________

A/N : hehehe fanfic Drabble pertama nih^^, semoga suka yaaaa... oh iya gue lagi kesemsem banget sama pairing ini >< mungkin gue bakalan bikin fic pairing ini lagi nih hehehe, gomawo ya yang udah mau baca^^



Regard   : @cicicipta   

0 comments:

Post a Comment

Happy Apple